TANJUNGPINANG – Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, didampingi Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, melaksanakan Safari Subuh di Masjid Raya Sultan Riau Penyengat, Kamis (15/1/2026). Kegiatan ini dirangkai dengan ziarah ke sejumlah makam tokoh dan Pahlawan Nasional di Pulau Penyengat, pulau bersejarah yang menjadi pusat peradaban Melayu dan Islam di masa lampau.
“Alhamdulillah akhirnya di sini saya bisa berziarah ke makam nenek moyang saya,” ujar Menag Nasaruddin Umar usai berziarah ke Kompleks Pemakaman Para Raja di Pulau Penyengat.
Dalam ziarah tersebut, Menteri Agama mengunjungi makam Raja Ali Haji Fisabilillah dan Daeng Celak. Ia menyebutkan bahwa Daeng Celak merupakan salah satu nama dalam silsilah keluarganya di Palopo, Sulawesi.
“Makam Daeng Celak yang saya ziarahi tadi merupakan salah satu nama yang menjadi silsilah keluarga saya di Palopo, Sulawesi,” ujarnya.
Sebelum ziarah, Menag bersama Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad melaksanakan Shalat Subuh berjamaah bersama masyarakat di Masjid Raya Sultan Riau Penyengat. Shalat berlangsung khusyuk, menyatukan pemimpin dan masyarakat dalam suasana spiritual yang sederhana namun sarat makna.
Fajar belum sepenuhnya terbit ketika kapal yang membawa Menteri Agama dan rombongan menepi di Pulau Penyengat pada Rabu (14/1/2026). Suasana hening, laut yang tenang, serta angin yang berembus lembut seolah mengantar langkah menuju pulau kecil dengan sejarah besar.
Pulau Penyengat bukan sekadar destinasi wisata sejarah, melainkan pusat kejayaan Kesultanan Melayu Riau-Lingga serta ruang tumbuh peradaban Islam dan literasi Melayu. Setibanya di pulau sebelum waktu Subuh, Menteri Agama menyempatkan diri berjalan mengitari kawasan Masjid Raya Sultan Riau yang tampak megah dalam cahaya temaram.
Masjid Raya Sultan Riau merupakan salah satu peninggalan terpenting di Pulau Penyengat. Masjid ini dibangun sekitar tahun 1803 dan rampung pada 1832. Keunikannya terletak pada teknik konstruksi yang menggunakan campuran putih telur, kapur, pasir, dan tanah liat sebagai perekat, sehingga bangunan tetap kokoh meski telah berusia lebih dari dua abad.
Arsitektur masjid juga sarat filosofi keislaman. Terdapat 13 kubah berbentuk bawang dan empat menara di setiap sudut bangunan. Jika dijumlahkan, angka tersebut melambangkan 17 rakaat shalat wajib dalam sehari semalam.
Di dalam masjid tersimpan mushaf Al-Qur’an tulis tangan yang sangat berharga. Salah satunya ditulis oleh Abdullah Al-Ma’ruf pada 1867 saat menuntut ilmu di Mekkah, menjadi bukti bahwa Pulau Penyengat pernah menjadi pusat pembelajaran dan penyalinan Al-Qur’an yang hidup.
Usai Shalat Subuh, perjalanan spiritual Menteri Agama berlanjut dengan ziarah ke makam Engku Putri Raja Hamidah, permaisuri Sultan Mahmud Syah. Kompleks pemakaman keluarga kerajaan ini tampak teduh dan terawat, dengan nisan yang dibalut kain kuning sebagai simbol kehormatan bangsawan Melayu.
Ziarah kemudian dilanjutkan ke makam Raja Ali Haji, tokoh besar yang meletakkan dasar bahasa Melayu baku melalui karya Gurindam Dua Belas. Dari Pulau Penyengat inilah gagasan tentang bahasa, adab, dan ilmu pengetahuan tumbuh dan menjadi fondasi bahasa Indonesia.
Pulau Penyengat sendiri memiliki sejarah panjang sebagai hadiah pernikahan Sultan Mahmud Syah kepada Engku Putri Raja Hamidah pada tahun 1805. Sejak itu, pulau ini berkembang menjadi pusat pemerintahan, keagamaan, dan intelektual Kesultanan Melayu Riau-Lingga.
Dalam catatan sejarah, Pulau Penyengat juga menjadi basis pertahanan melawan kolonialisme, dengan Benteng Bukit Kursi sebagai saksi perjuangan rakyat Melayu.
Rombongan Menteri Agama juga mengunjungi Balai Adat Pulau Penyengat. Bangunan rumah panggung tradisional Melayu ini menyimpan pelaminan bersulam benang emas, replika kamar pengantin, galeri foto para sultan, serta koleksi artefak adat. Di bagian bawah balai terdapat sumur air tawar berusia ratusan tahun yang hingga kini masih dimanfaatkan masyarakat.
Perjalanan dilanjutkan ke Balai Maklumat Indera Sakti, pusat dokumentasi dan museum naskah kuno. Di tempat ini tersimpan sekitar 500 manuskrip beraksara Arab-Melayu yang mencakup bidang keagamaan, sastra, ilmu pengetahuan, dan administrasi kerajaan.
Balai Maklumat juga merekam jejak Khutub Khanah Marhum Ahmadi, perpustakaan umum pertama di Nusantara yang berdiri pada 1886.
Kunjungan ditutup dengan berkeliling Kampung Datuak bersama Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau.
Interaksi hangat dengan masyarakat menegaskan bahwa warisan sejarah tidak hanya dirawat melalui bangunan, tetapi juga melalui keberlanjutan nilai-nilai spiritual.
Pulau Penyengat hingga kini tetap hidup sebagai simbol kebesaran, intelektualitas, dan spiritualitas Melayu. Melalui kunjungan ini, Menteri Agama menegaskan pentingnya merawat warisan Islam Nusantara sebagai sumber nilai, identitas, dan inspirasi bagi perjalanan bangsa. ***









