TANJUNGPINANG – Jadwal kedatangan dan keberangkatan kapal feri internasional dinilai menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi minat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Kota Tanjungpinang.
Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Tanjungpinang–Bintan, Sapril Sembiring, mengatakan pola jadwal kapal dari Malaysia membuat wisatawan memiliki waktu yang terbatas untuk menikmati destinasi wisata di Tanjungpinang.
Menurut Sapril, kapal feri dari Malaysia umumnya tiba di Tanjungpinang pada sore hari dan kembali berangkat pada pagi hari.
Kondisi tersebut membuat wisatawan, terutama yang mengikuti tur satu hari, tidak memiliki banyak pilihan aktivitas wisata selama berada di Tanjungpinang.
“Terlebih kita tidak mampu menyuguhkan daya tarik wisata pada malam hari. Tidak ada yang membuat wisman ingin mengulang kembali kunjungannya,” kata Sapril, Rabu, 6 Mei 2026.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi salah satu alasan wisatawan asing lebih memilih Batam sebagai tujuan kunjungan karena memiliki waktu tempuh lebih singkat dan pilihan aktivitas wisata yang lebih banyak.
Selain itu, biaya perjalanan menuju Tanjungpinang juga disebut lebih mahal dibandingkan Batam sehingga mempengaruhi pilihan wisatawan asing.
Karena itu, Sapril mendorong Pemerintah Kota Tanjungpinang untuk membangun komunikasi dengan operator kapal dan otoritas pelabuhan terkait penyesuaian jadwal pelayaran internasional.
Menurutnya, perubahan pola kedatangan dan keberangkatan kapal dapat membantu memberikan waktu lebih panjang bagi wisatawan menikmati destinasi wisata di Tanjungpinang.
Sapril juga mengatakan pengembangan atraksi wisata malam hari perlu menjadi perhatian agar wisatawan memiliki alasan untuk tinggal lebih lama dan kembali berkunjung.
Data Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau menunjukkan kunjungan wisman ke Tanjungpinang pada Januari 2026 sebanyak 4.030 kunjungan, meningkat menjadi 5.047 kunjungan pada Februari, dan kembali naik menjadi 5.622 kunjungan pada Maret 2026.
Menariknya, tren kenaikan wisman ke Tanjungpinang terjadi ketika Batam, Bintan dan Karimun justru mengalami penurunan jumlah kunjungan wisatawan asing.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Tanjungpinang Zulhidayat mengatakan pemerintah kota telah mengidentifikasi berbagai peluang dan hambatan pengembangan sektor wisata daerah.
Melalui kerja sama dengan Bappenas RI, Pemko Tanjungpinang juga melaksanakan forum diskusi internal bersama perangkat daerah terkait di Pulau Penyengat pada Kamis, 7 Mei 2026.
“Tentunya setelah ini kita akan mengajak rekan-rekan pelaku usaha wisata, serta stake holder terkait lainnya,” ujar Zulhidayat.
Ia menegaskan pengembangan sektor pariwisata membutuhkan kolaborasi berbagai pihak karena menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah. ***








