BEKASI – Masa layanan gratis Bus Trans Bekasi Keren (Beken) segera berakhir. Setelah sepekan beroperasi tanpa tarif dan berhasil mengangkut 4.968 penumpang sejak 10 Februari 2026, layanan transportasi publik kebanggaan Pemerintah Kota Bekasi ini bersiap memasuki fase baru dengan tarif Rp4.500 per perjalanan mulai awal Maret.
Perubahan dari layanan gratis menjadi berbayar diperkirakan akan mempengaruhi jumlah penumpang. Ketua Komisi II DPRD Kota Bekasi, Latu Har Hary, menyebut Dinas Perhubungan telah menghitung potensi penurunan penumpang setelah tarif mulai diberlakukan.
“Dishub memperkirakan ada penurunan sekitar 15 persen ketika layanan mulai berbayar,” ujarnya.
Angka tersebut menunjukkan bahwa masa uji coba gratis tidak sepenuhnya dapat dijadikan tolok ukur keberhasilan jangka panjang layanan transportasi publik tersebut.
Selama masa gratis, minat masyarakat terhadap Bus Beken terlihat cukup tinggi. Namun DPRD mengingatkan bahwa tantangan sesungguhnya justru dimulai ketika layanan sudah memasuki fase berbayar.
“Kalau hanya ramai ketika gratis, lalu menurun saat berbayar, beban operasional justru akan semakin berat,” kata Latu.
Penurunan jumlah penumpang tidak hanya berdampak pada tingkat keterisian bus, tetapi juga pada besarnya beban subsidi yang harus ditanggung pemerintah daerah.
Pemerintah Kota Bekasi saat ini mengusulkan total subsidi transportasi publik sebesar Rp12,6 miliar dalam APBD Perubahan 2026. Dana tersebut terdiri dari Rp2,8 miliar untuk operasional Bus Beken dan Rp9,8 miliar untuk layanan Biskita Trans Patriot.
Sebelumnya, alokasi awal dalam APBD 2026 sekitar Rp9 miliar untuk mendukung dua layanan transportasi tersebut. Penambahan anggaran ini dinilai perlu diiringi dengan strategi yang jelas agar layanan tetap efektif dan tidak menjadi beban fiskal yang terus membesar.
DPRD menekankan bahwa keberhasilan transportasi publik tidak hanya ditentukan oleh tarif murah, tetapi juga oleh konsistensi pelayanan.
Karena itu, DPRD meminta Dinas Perhubungan Kota Bekasi menyiapkan peta jalan pengembangan layanan transportasi publik yang lebih terukur.
Beberapa aspek yang perlu diperhatikan antara lain target jumlah penumpang yang realistis, evaluasi berkala yang transparan, integrasi rute yang efektif, serta peningkatan kenyamanan dan ketepatan waktu layanan.
Selain itu, sosialisasi kepada masyarakat juga dinilai penting agar warga memahami manfaat transportasi publik dan mulai beralih dari kendaraan pribadi.
Perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor kunci dalam keberhasilan sistem transportasi perkotaan. Jika jumlah penumpang terus meningkat, beban subsidi dapat ditekan.
Sebaliknya, jika minat masyarakat menurun setelah tarif diberlakukan, subsidi transportasi berpotensi menjadi beban fiskal yang semakin besar bagi APBD.
Bus Beken kini memasuki fase pembuktian, apakah mampu menjadi solusi mobilitas yang berkelanjutan bagi warga Bekasi atau hanya ramai ketika layanan masih gratis. ***
(ADVETORIAL DPRD KOTA BEKASI)








