JAKARTA — Aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, menjadi korban penyiraman cairan yang diduga air keras di kawasan Salemba, Jakarta. Peristiwa tersebut memicu kecaman keras dari berbagai pihak, termasuk Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) yang mendesak aparat penegak hukum segera mengusut tuntas kasus tersebut.
Ketua Umum JMSI Teguh Santosa menilai tindakan penyiraman air keras terhadap aktivis HAM tersebut bukan sekadar tindak kekerasan biasa, tetapi merupakan serangan serius terhadap nilai demokrasi dan penegakan hak asasi manusia.
“Tindakan penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus dari KontraS adalah serangan terhadap demokrasi itu sendiri. Aktivis HAM bekerja untuk kepentingan rakyat dan kepentingan negara, karena penegakan HAM dan demokrasi merupakan amanat konstitusi,” kata Teguh Santosa dalam keterangannya, Sabtu (14/3/2026).
Ia menegaskan bahwa dalam sistem demokrasi, perbedaan pandangan tidak boleh dijawab dengan tindakan kekerasan.
“Menyerang aktivis demokrasi dan HAM, meskipun berbeda pendapat dengan mereka, tetap tidak dapat dibenarkan. Dalam demokrasi setiap orang hendaknya berpegang pada prinsip menghormati perbedaan dan keragaman karena semua berbuat untuk kepentingan bersama, bukan untuk kepentingan pribadi,” ujarnya.
Peristiwa penyiraman air keras tersebut terjadi sekitar pukul 23.37 WIB di Jalan Salemba I, Jakarta.
Saat itu Andrie sedang mengendarai sepeda motor Yamaha Aerox berwarna kuning dalam perjalanan pulang menuju rumah kontrakannya di kawasan Menteng.
Ketika melintas di kawasan Talang, Andrie melihat sebuah sepeda motor yang dikendarai dua orang melawan arah.
Motor tersebut diduga jenis Honda Beat atau Honda Vario model lama berwarna hitam dengan panel putih di bagian belakang.
Saat kedua kendaraan berpapasan, salah satu pelaku tiba-tiba menyiramkan cairan yang diduga air keras ke arah tubuh korban.
Cairan tersebut mengenai bagian kanan tubuh Andrie, terutama mata, wajah, dada, serta tangan.
Korban langsung berteriak kesakitan hingga menghentikan motornya dan terjatuh di jalan.
Menurut keterangan KontraS, Andrie sempat berteriak meminta pertolongan sambil berteriak, “AAAH, AAHH, AAHH, PANAS… PANAS!” lalu berteriak “AIR KERAS, AIR KERAS,” hingga warga sekitar berdatangan.
Akibat cairan tersebut, pakaian yang dikenakan korban bahkan disebut meleleh.
Para pelaku langsung melarikan diri dari lokasi menuju Jalan Salemba Raya.
Setelah kejadian, Andrie dibawa oleh dua rekannya, Rizky dan Hardingga, ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk mendapatkan penanganan medis.
Korban tiba di rumah sakit sekitar pukul 23.48 WIB dan langsung mendapatkan perawatan.
Berdasarkan diagnosis awal tim dokter, Andrie mengalami luka bakar sekitar 24 persen akibat cairan yang mengenai sejumlah bagian tubuhnya.
Saat ini ia ditangani oleh enam dokter spesialis, termasuk spesialis mata, THT, saraf, tulang, thoraks, organ dalam, dan kulit.
Korban juga dijadwalkan menjalani tindakan operasi mata berupa transplantasi membran amnion untuk memperbaiki jaringan mata yang rusak.
Ketua Umum JMSI Teguh Santosa juga meminta aparat kepolisian memastikan pengusutan kasus tersebut dilakukan secara menyeluruh.
“Saya meminta aparat penegak hukum, khususnya Polri, memastikan pengusutan tuntas sampai ke aktor intelektual, bukan hanya pelaku penyerangan di lapangan,” tegasnya. ***









